Perihal Pesisir (I)

 Tulisan ini adalah bentuk support kepada kawan-kawan di Cirebon dalam menginisiasi perhelatan Festifal Film Bahari yang pertama. Tulisan ini pernah tayang di akun IG nya.


Pesisir..

Inilah ruang, awal bermulanya sebuah sejarah. Orang datang, pergi, dan datang kembali..menghuni, mempertahankan hidup, lalu berkembang dalam jumlah. Membawa, mengambil, dan menyimpan...hasil bumi, peralatan hidup, kebiasaan yang sudah membudaya, kemudian menciptakan budaya lain yang baru...hasil perkawinan silang kebiasaan lama dengan yang baru. 


Pesisir..

Seperti lumrahnya manusia hidup yang berusia renta, yang hanya memiliki sejarah hidup untuk diceritakan, bukan memberikan ceramah seolah dia titisan yang maha mulia. Pesisir bercerita melalui sejarah. Dialah salah satu penyimpan sejarah yang tak terukur usianya. Saksi bisu beribu peristiwa di sepanjang Nusantara.


Pesisir..

Orang berlalu-lalang, menjadikannya pelarian sejenak dari kerumitan hidup masing-masing manusia yang menuai cantiknya, mungkin lebih banyak dari jumlah penduduk di sekitar pesisir itu sendiri, yang mencari penghidupan, menghidupi dan menghidupkan entitas ruang itu sendiri.


Pesisir..

Salah satu ruang terbuka di mana tiap makhluk boleh berdiri tegap, untuk
menyadari tanpa halang merintang, untuk mengamini sebuah logika tanpa teori penyangkal, bahwa semesta adalah tak terukur.


Memuliakan kemanusiaan adalah memuliakan tempat untuk hidup, menghidupi dan menghidupkan. Memuliakan Nusantara, salah satunya ialah memuliakan semesta pesisir, yang tak kalah berperan dalam sejarah panjang Nusantara.


Rahayu. Bahari.

Brian Banyu 

(Febriana)


Foto: Quang Nguyen vinh from pixabay.com








Komentar